Adenium Arabicum vs Adenium Obesium

Diposting pada
Awal tahun 2005 merupakan awal permulaan kejayaan adenium arabicum di Indonesia. Jenis yang pertama kali masuk Indonesia adalah Thai Socotranum, dengan membawa tren yang melawan arus kala itu. Sebelumnya, dunia per-adenium-an di sini didominasi oleh adenium obesium. Keindahan utama obesium adalah mengandalkan pada bunganya. Berbeda dengan Arabicum yang tampil indah meskipun tidak sedang berbunga. Kekuatan keindahan Adenium Arabicum terletak pada kekompakan akar, batang dan pecabangannnya. Akar yang berkesan kokoh, batang utama yang besar dengan cabang-cabang yang sangat rapat, namun rapi berbaris membentuk keselarasan “ritme” pertumbuhan.

Apakah kedatangan A. Arabicum menyingkirkan A. Obesium? Tidak. Justru kedatangannya membawa efek positif. Kenapa bisa begitu? Karena ibaratnya kita berdagang, akan merasa perlu berinovasi dan melakukan perubahan setelah ada pesaing yang datang. Obesium awalnya begitu menguasai pasar adenium nusantara. Bunga-bunga yang bermekaran menjadi kebanggaan bagi para hobbis. Kreatifitas para petani seakan berhenti, karena merasa adenium saat ini yang mereka kelola sudah bisa memuaskan pasar. Namun rasa jenuh pasti ada di kalangan penikmat Adenium, ingin sesuatu yang berbeda, maka muncullah berbagai teknik persilangan dan teknik-teknik pembentukan adenium yang memberikan warna yang berbeda.

Sejarah adenium di IndonesiaDan, muncullah jenis-jenis baru dengan keunggulan-keunggulan yang baru juga, di antaranya : Obesium “menciptakan” adenium tumpuk yang sanggup mempesonakan siapa saja. Bunga yang mempunyak mahkota berjenjang, siapa yang tak terkesan? Yang awalnya obesium “hanya” bermodalkan bunga yang banyak, namun bunga tumpuk memberikan sesuatu yang baru. Arabicum pun demikian juga. Setelah Thai Soco, muncul RCN yang terkenal dengan nama ra chinee dan Adenium Raja Fahd (ini karena Adenium jenis ini dipopulerkan pertama kali oleh Raja Fahd)

RCN ini seakan ingin mewakili Adenium Arabicum ikut masuk ke kalangan pecinta bunga A. Obesium. Bagaimana tidak, dengan akar yang kokoh, batang utama yg kekar dan percabangan yang amat rapat (ciri dan keunggulan Arabicum) namun dilengkapi sampai dengan ratusan kuntum bunga di kala musim berbunga. Oleh karena itu, RCN mendapat julukan Queen of the thousand flowers, yang rajin memamerkan bunga.

RCN

Bunga tumpuk berhasil mempertahankan bunga Adenium Obesium dari daftar incaran koleksi para pecinta bunga ini, selanjutnya datang bunga adenium kuning. Ini hal yang langka kala itu karena tidak ada gen warna kuning mentega pada si mawar gurun ini.

Kehadiran adenium kuning memicu munculnya bunga dengan warna-warna yang tidak biasa. Obesium warna putih denga spash merah atau ungu. Corak yang sempat membuat penggemar obesium tercengang. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terbayangkan. Karena untuk mendapatkan motif spash bukanlah perkara gampang. Namun sekarang bisa menjadi kenyataan.

Adnium Tumpuk Kuning

RCN menjadi motor penggerak penetrasi Adenium Arabicum di Indonesia. Karena kehadirannya memicu bermunculannya adenium jenis baru. Misalnya persilangan RCN dan Obesium menghasilkan obesium 1000 batang. Rapat sekali batang-batangnya. Semua komponen menyajikan keindahan yang bisa dinikmati oleh para hobbis. Juga Black Arabicum, hasil silang antara Adenium Somalense dan Arabicum.

Penggemar Adenium Arabicum terkesan dengan bonggol jumbo tanaman jenis ini. Mereka yang fanatik dengan Arabicum mengatakan, “bonggol bisa dinikmati sepanjang waktu, tidak seperti bunga yang baru terlihat ketika mekar. ”

Namun penggemar Obesium pun berkelit, hakekat bunga adalah ketika dia berbunga. Dan adenium adalah bunga, bukan boonsai semata. Mereka memamerkan betapa bunga Adenium tumpuk yang memang berasal dari induk obesium, sebagai reaksi “bangsa” obesium terhadap agresi Arabicum.

Namun perlahan-lahan fanatisme tersebut segera terkikis. Karena ternyata kolaborasi atau persilangan dua jenis ini menghasilkan jenis yang mengakomodir keunggulan masing-masing. Ibaratnya, sekarang Adenium Arabicum dan Obesium sudah menjadi “besan” yang akur. Sebuah ungkapan dikeluarkan oleh pelaku tanaman hias asal Thailand – Vitoon Techacharoensukchera “Tanpa diawali Obesium, Arabicum tidak akan tren”

 

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *